PENGANTAR
OSEANOGRAFI
SALINITAS
AIR LAUT
ERFINA LIJA PAHMA (
E1I014024)
ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BENGKULU
1.
Salinitas Laut Mati
Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar
garam terlarut dalam air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam
tanah. Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran air alami
sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar.
Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara definisi, kurang dari 0,05%.
Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air payau atau menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai
5%. Lebih dari 5%, ia disebut brine.
Laut Mati juga disebut Laut Asin, adalah sebuah
danau garam yang berbatasan dengan Israel dan Tepi Barat di barat, dan Yordania
di timur. Permukaannya dan pantai adalah 422 meter (1.385 kaki) di bawah
permukaan laut, permukaan air terendah dari permukaan bumi di ukur dari tanah
kering. Laut Mati adalah 378 m (1.240 kaki) dalamnya, danau yang terdalam di
antara danau danau asin dunia. Juga merupakan air yang paling asin, dengan
33,7% salinitas. Hanya Danau Assal (Djibouti), Garabogazköl dan beberapa danau
hypersaline dari Lembah Kering McMurdo di Antartika (seperti Don Juan Pond dan
mungkin Danau Vanda) memiliki salinitas yang lebih tinggi. Danau ini adalah 8,6
kali lebih asin daripada laut. Dikarenakan salinitas yang keras, membuat suatu
lingkungan di mana binatang tidak dapat berkembang, maka sesuai dengan namanya
Laut Mati. Laut Mati adalah 67 kilometer (42 mil) panjangnya dan 18 kilometer
(11 mil) lebarnya pada titik terlebar. Itu terletak di Yordania Rift Valley,
dan anak sungai utamanya adalah Sungai Yordan.
Laut Mati telah menarik pengunjung dari seluruh
Mediterania selama ribuan tahun. Secara Alkitabiah, itu adalah tempat perlindungan
bagi Raja Daud. Itu adalah salah satu pertama di dunia resor kesehatan (untuk
Herod the Great), dan telah menjadi pemasok berbagai produk, dari balsam untuk
membuat mumi Mesir untuk garam abu untuk pupuk. Orang-orang juga menggunakan
garam dan mineral dari Laut Mati untuk menciptakan kosmetika dan herbal sachet.
Alat
Ukur Salinitas
SALINOMETER

Salinometer adalah
alat untuk mengukur salinitas dengan cara mengukur kepadatan dari air yang akan
dihitung salinitasnya. Bekerjanya berdasarkan daya hantar listrik,semakin besar
salinitas semakin Besar pula daya hantar listriknya. Alat ini digunakan di
laboratorium, berbeda dengan refraktometer yang biasa digunakan di lapangan
atau outdoor.
Cara menggunaka salinometer adalah sebagai berikut :
Ambil gelas
ukur yang panjang, isi dengan air sampel yang akan diukur salinitasnya
Salinitas akan terbaca pada skalanya
• REFRAKTO METER

Refraktometer
merupakan alat pengukur salinitas yang cukup umum. Juga disebut sebagai
pengukur indeks pembiasan pada cairan yg dapat digunakan untuk mengukur kadar
garam. Prinsip alat ini adalah dengan memanfaatkan indeks bias cahaya untuk
mengetahui tingkat salinitas air, karena memanfaatkan cahaya maka alat ini
harus dipakai ditempat yang mendapatkan banyak cahaya atau lebih baik kalau
digunakan dibawah sinar matahari jadi sehabis kita mengambil sampel air laut
kita langsung menghitungnya dengan alat ini. Berikut langkah - langkahnya :
1. Tetesi refraktometer dengan aquadest
2. Bersihkan dengan kertas tisyu sisa aquadest yang tertinggal
3. Teteskan air sampel yang ingin diketahui salinitasnya
4. Lihat ditempat yang bercahaya
5. Akan tampak sebuah bidang berwarna biru dan putih
6. Garis batas antara kedua bidang itulah yang menunjukan salinitasnya
7. Bilas kaca prisma dengan aquades, usap dengan tisyu dan simpan refraktometer di tempat kering
3. Faktor – faktor yang
mempengaruhi salinitas :
Penguapan, makin besar tingkat
penguapan air laut di suatu wilayah, maka salinitasnya tinggi dan sebaliknya
pada daerah yang rendah tingkat penguapan air lautnya, maka daerah itu rendah
kadar garamnya.
Curah hujan, makin besar/banyak curah hujan di suatu wilayah laut maka
salinitas air laut itu akan rendah dan sebaliknya makin sedikit/kecil curah
hujan yang turun salinitas akan tinggi.
Banyak sedikitnya
sungai yang bermuara di laut tersebut, makin banyak sungai yang bermuara ke
laut tersebut maka salinitas laut tersebut akan rendah, dan sebaliknya makin
sedikit sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitasnya akan tinggi.
Distribusi salinitas permukaan juga cenderung zonal. Air laut bersalinitas
lebih tinggi terdapat di daerah lintang tengah dimana evaporasi tinggi. Air
laut lebih tawar terdapat di dekat ekuator dimana air hujan mentawarkan air
asin di permukaan laut, sedangkan pada daerah lintang tinggi terdapat es yang
mencair akan menawarkan salinitas air permukaannya.
Di perairan lepas pantai yang dalam, angin dapat pula melakukan pengadukan
di lapisan atas hingga membentuk lapisan homogen kira-kira setebal 50-70 m atau
lebih bergantung intensitas pengadukan. Di perairan dangkal, lapisan homogen
ini berlanjut sampai ke dasar. Di lapisan dengan salinitas homogen, suhu juga
biasanya homogen. Baru di bawahnya terdapat lapisan pegat (discontinuity layer)
dengan gradasi densitas yang tajam yang menghambat percampuran antara lapisan
di atas dan di bawahnya. Di bawah lapisan homogen, sebaran salinitas tidak
banyak lagi ditentukan oleh angin tetapi oleh pola sirkulasi massa air di
lapisan massa air di lapisan dalam. Gerakan massa air ini bisa ditelusuri
antara lain dengan mengakji sifat-sifat sebaran salinitas maksimum dan
salinitas minimum dengan metode inti (core layer method).
Volume air dan konsentrasi dalam fluida internal tubuh ikan dipengaruhi
oleh konsentrasi garam pada lingkungan lautnya. Untuk beradaptasi pada keadaan
ini ikan melakukan proses osmoregulasi, organ yang berperan dalam proses ini
adalah insang dan ginjal. Osmoregulasi memerlukan energi yang jumlahnya
tergantung pada perbedaan konsentrasi garam yang ada antara lingkungan
eksternal dan fluida dalam tubuh ikan. Toleransi dan preferensi salinitas
dari organisme laut bervariasi tergantung tahap kehidupannya, yaitu telur,
larva, juvenil, dan dewasa. Salinitas merupakan faktor penting yang
mempengaruhi keberhasilan reproduksi pada beberapa ikan dan distribusi berbagai
stadia hidup.
DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar